Serunya hari itu bukan karena siapa yang paling benar.
Justru sebaliknya—karena tak ada yang sibuk mencari kemenangan.
Semua bermula ketika SOP yang kubuat muncul di layar.
Belum lama aku menjelaskan, sebuah suara memotong dengan santai tapi tajam.
“Harusnya bagian ini dihapus. Lalu keterangannya dipisah di setiap proses.”
Kalimat sederhana. Tapi cukup untuk membuat otakku langsung bekerja.
Bukan defensif—lebih ke tertantang.
Aku pun mulai menjelaskan.
Bukan sekadar membela, tapi membongkar satu per satu alasan di balik setiap baris SOP yang kutulis.
Kenapa bagian itu ada.
Kenapa alurnya kubuat seperti itu.
Apa pemahaman yang melandasinya.
Aneh ya… rasanya enak.
Bahkan seru.
Argumen mengalir, ide saling beradu, logika diuji tanpa harus saling menjatuhkan.
Bukan debat kusir—ini adu pikiran yang sehat.
Di situlah kepuasannya.
Saat ide yang tadinya hanya berisik di kepala akhirnya keluar, dinarasikan, diuji, lalu dipertajam.
Dan ketika teman-teman mulai memberi sudut pandang baru, kepalaku terasa… terisi.
Bukan penuh ego, tapi penuh kemungkinan.
SOP itu pun berubah.
Lebih rapi.
Lebih masuk akal.
Lebih kuat karena melewati koreksi, bukan sekadar persetujuan.
Hari itu aku pulang dengan satu kesimpulan sederhana:
pekerjaan terbaik lahir bukan dari pikiran yang paling keras,
tapi dari pikiran yang berani diuji.
Segitu aja ya, gaes.
Cerita seru hari ini—tentang kepala yang akhirnya tumbuh.
Posting Komentar